Langsung ke konten utama

ANALISIS FUNDAMENTAL PT BUKIT ASAM TBK.




TUGAS MANAJEMEN INVESTASI 
& PORTOFOLIO

ANALISIS FUNDAMENTAL
PT .BUKIT ASAM TBK










DISUSUN  OLEH : 

1. EGGIANA SETIANINGRUM       ( 1021710020)
2. SAVIERA RAMADHANISA E. P. ( 1021710066)












Universitas Internasional Semen Indonesia

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

2019/2020



Analisis Fundamental PT. Bukit Asam Tbk




1.   Analisis Makro Ekonomi

Di tahun 2018 kondisi ekonomi global dihadapkan pada sejumlah ketidakpastian yang disebabkan oleh beberapa hal, seperti Bank Sentral Amerika (The Federal Reserve) yang menaikkan suku bunganya sebanyak tiga kali selama tahun 2018, perang dagang Amerika Serikattiongkok, krisis Turki, hingga krisis politik dan gejolak keuangan di Italia. Hal tersebut berpengaruh cukup banyak terhadap kondisi ekonomi di dalam negeri. Hal ini tercermin dari nilai tukar mata uang rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang terus melemah. ditambah lagi dengan kondisi Current Account Deficit (CAD) yang terus melebar akibat kinerja ekspor yang tumbuh lebih rendah daripada impor. Kondisi ini menunjukkan turunnya kepercayaan investor terhadap emerging market.

Neraca perdagangan Indonesia per November 2018 mencatat defisit dipengaruhi kondisi global yang kurang kondusif. Defisit neraca perdagangan tercatat 2,05 miliar dolar amerika Serikat dipengaruhi penurunan kinerja ekspor akibat pertumbuhan ekonomi dunia yang melandai dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun. Sementara itu, impor masih tumbuh tinggi guna memenuhi kebutuhan kegiatan produktif yakni untuk investasi, yang mulai menurun sejalan dengan kebijakan pengendalian yang ditempuh.

Nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan mekanisme pasar dan konsisten mendukung penyesuaian sektor eksternal. Rupiah menjelang akhir tahun yaitu pada november 2018 menguat sebesar 6,29% dibandingkan level bulan sebelumnya, dipengaruhi aliran masuk modal asing yang cukup besar akibat dampak positif perekonomian domestik yang tetap kondusif dan eskalasi ketegangan hubungan dagang amerika Serikat-tiongkok yang sempat mereda. Pada bulan desember
2018, Rupiah mendapat tekanan yang dipengaruhi oleh ketidakpastian global serta permintaan valuta asing musiman untuk kebutuhan akhir tahun.



Sumber : Laporan Tahunan 2018

2.   Analisis Industri

Dari hasil laporan triwulan 2019 PT Bukit Asam mengalami kenaikan begitu juga dengan perusahaan yang bergerak yang sama di bidang batu bara, dikarenakan permintaan batubara dari negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, dan Filipina meningkat berkat tingginya permintaan listrik untuk memenuhi penambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) barubaru makan terjadi peningkatan di akhir 2019. Setelah memasuki 2020 semua perusahaan yang bergerak di bidang batu bara mengalami penurunan dikarenakan wabah yang saat ini terjadi secara Global dan membuat dampak yang sangat mengerikan bagi umat manusia dan perekonomian, perekonomian melemah dikarenakan semua barang yang import maupun eksport mengalami pembatasan, jadi tidak semua pengiriman bisa seperti biasa dan bahkan tidak bisa memenuhi targer dalam pengiriman. Dari dampak melemahnya perekonomian ini secara Global ada ketidakpastian kebijakan pemerintah, ketegangan dagang antara AS-China serta penurunan harga gas alam cair adalah beberapa faktor yang melemahkan pasar. karena pasar mewaspadai ekonomi global yang lemah. Hal ini menyebabkan permintaan listrik dan konsumsi batubara di China dan India terkena dampaknya. Meskipun demikian, dari beberapa perusahaan yang bergerak di bidang batu bara masih tetap optimis dengan fundamental jangka panjang pasar batubara, yang mendapat dukungan permintaan dari wilayah Asia Tenggara dan Selatan seiring upaya negara-negara di wilayah tersebut mengejar pembangunan ekonomi dan meningkatkan sektor ketenagalistrikan.

Sumber : Laporan Tahunan 2019




3.   Analisis Mikro Perusahaan
Perkembangan industri batu bara di Indonesia terbilang cukup baik, ditopang dari tingkat permintaan yang cukup tinggi dari tiongkok, India, maupun Korea Selatan. Berangkat dari latar belakang tersebut, kami memandang bahwa PT. Bukit Asam tbk sangat luar biasa. terutama dilihat dari kemampuan perseroan untuk tetap bertumbuh terlepas dari kondisi global dan Indonesia yang cenderung stagnan dan kurang kondusif, diantaranya :

Volume penjualan mencapai 24,69 juta ton atau tercapai 95% dari target tahun 2018 sebesar
25,88 juta ton, serta mencapai 105% dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 23,63 juta ton.
Volume produksi mencapai 26,36 juta ton atau tercapai 103% dari target yang ditetapkan sebesar 25,54 juta ton, serta meningkat 9% dibandingkan realisasi volume produksi tahun 2017 sebesar 24,23 juta ton.
Pendapatan selama tahun 2018 mencapai Rp21,17 triliun atau meningkat 9% dibandingkan pendapatan selama tahun 2017 sebesar Rp19,47 triliun dikarenakan Perseroan melakukan berbagai upaya efisiensi operasional dan inovasi produk serta peningkatan penjualan
Laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp5,02 triliun, atau naik 12% dari laba bersih tahun
sebelumnya yang hanya Rp4,48 triliun.

Sumber : Laporan Tahunan 2018



Rasio Likuiditas



Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar atau melunasi utang jangka pendeknya menggunakan aset yang dimiliki. Dari data yang tersedia, dapat kita lihat bahwa rata-rata Current Ratio PT.Bukit Asam dari tahun 2014 2018 adalah 208%. Angka tersebut menunjukkan, bahwa perusahaan mampu untuk membayarnya. Dengan demikian, Investor tidak akan khawatir karena dalam kondisi sekarang ini, perusahaan tidak mungkin brangkut.


Rasio Solvabilitas


Rasio solvabilitas atau leverage adalah rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melunasi semua kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang dengan jaminan aktiva atau kekayaan yang dimiliki perusahaan hingga perusahaan tutup atau dilikuidasi.

Dari tahun 2014 hingga 2017, Debt to total Asset Ratio (DAR) mengalami kenaikan, akan tetapi di tahun 2018 mengalai penurunan. Dengan demikian, menandakan bahwa pendanaan perusahaan yang dibiayai oleh utang semakin kecil.

Sedangkan, Debt to total Asset Equity Ratio (DER) dari tahun 2014-2017 mengalami kenaikan, akan tetapi di tahun 2018 mengalai penurunan juga. Artinya Asset yang dibiayai oleh Kreditor semakin menurun. Semakin kecil DER menandakan bahwa pendanaan yang dibiayai melalui kreditor lebih kecil, dan sebaliknya.


Rasio Profitatabilitas


Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio) adalah rasio atau perbandingan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan, aset, dan ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu.

Return On Asset (ROA) selama tahun 2014-2018 menunjukkan rata ratanya di angka
15%, yang artinya bahwa setiap 1 rupiah asset yang dimiliki dan digunakan untuk operasional perusahaan mampu menghasilkan laba sebesar 15%, hal ini menandakan bahwa perusahan mampu menghasilkan laba yang  dapat menarik minat investor.
Return On Equity (ROE)  selama tahun 2014-2018 menunjukkan rata ratanya di angka

25%, Return On Equity menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri yang dimiliki.  Semakin tinggi rasio ini maka semakin tinggi keuntungan investor karena semakin efisien modal yang ditanamkannya.














DAFTAR PUSTAKA








Komentar